Leonardo DiCaprio adalah orang yang saya idolakan. Setiap hal dalam dirinya, setiap detil kegiatannya, kecuali imannya, saya menganguminya. Awalnya ketertarikan saya pada dirinya hany karena tampilan fisik, tapi seiring waktu berjalan, dari banyak informasi yang saya baca, saya pun semakin mengenalnya. Kekaguman pada paras pun perlahan berubah menjadi kagum pada pribadinya.

Dulu, sewaktu ia masih berumur lima tahun, ia adalah anak yang bandel. Sampai ia pernah dicoret namanya dari sebuah rumah produksi. Rumah produksi tersebut kemudian mengirimkan selebaran ke semua rumah produksi yang ada di Hollywood untuk tidak menerima dia. Ia pun gagal diterima di rumah produksi manapun. Saat itu ia melamar, mencari pekerjaan untuk berakting ditemani ayahnya. Ayahnya mencoba menenangkan dirinya, Leo sambil menangis dan penuh kepercayaan berkata, “Dad, I wouldn’t give up, I’ll keep trying to find some, I believe that someday I’ll be a great actor!”

Kegigihannya berbuah hasil. Perannya sebagai orang yang cacat mental di What’s Eating Gilbert Grape menjadikan ia masuk nominasi Oscar sebagai Best Supporting Actor. Aktingnya di Romeo+Juliette membuat ia dipuja para gadis diseluruh dunia. Film Titanic semakin melambungkan namanya dikancah perfilman. Bayarannya melonjak naik dari lima juta dollar menjadi dua puluh juta dollar. Meski The Man and The Iron Mask dan The Beach gagal di pasaran, ia tidak pantang menyerah. Dua tahun kemudian ia membintangi dua film sekaligus dan bertransformasi menjadi seseorang yang luar biasa hebatnya. Pujian dari para kritikus tak berhenti menghujaninya.

Kita semua bisa melihat ia telah membuktikan kata-katanya. Ia semakin matang dengan kemampuan beraktingnya. Mematahkan semua kritikan pedas para kritikus yang mengatakan bahwa ia hanya bermodal tampang. Tak hanya itu, kontibusinya terhadap kelestarian lingkungan tak bisa dianggap enteng. Ia bahkan memproduseri film dokumenter yang berjudul 11th Hour. Ia membuktikan kata-katanya. Ia berhasil menjadi Great Actor ! :)

Kisah yang menginspirasi saya ini terjadi ketika saya duduk pertama kali dibangku SMA. Agak dangkal barangkali. Tapi, apa yang saya alami saat itu, benar-benar menjadi panutan saya untuk hidup kedepannya.

MOS adalah waktu dimana saya menyukai kakak kelas, dan mencoba untuk dekat dengannya. Ada dua orang yang saya sukai, sebut saja A dan B. Keduanya sangat manis, saya tertarik padanya, hehe. Hingga masa MOS berakhir, saya semakin dekat dengan mereka. Pembicaraan pun semakin serius, bukan sekedar bertanya kabar, curhat pun terjalani. Ternyata, kemajuan tersebut telah mebukakan kebenaran bahwa kakak A telah mempunyai seseorang.

Kisah pun berlanjut pada kakak B. Lama saya dekat dengannya. Keluarga saya pun sampai mengenalnya. Kadang, ia pun meminta saya untuk menemani kegiatannya. Saya kira ada sesuatu, naas bagi saya, ternyta ia pun berlaku begitu terhadap teman sekelas saya!

Saya pun lelah telah mengejar apa yang tidak menjadi hasil sama sekali. Sampai saya pernah berkata pada sahabat saya “Sudahlah, mau apa adanya aja sekarang mah, ga ada acara buat ngedeketin orang lagi, cape! Biar semua berjalan dengan sendirinya. Tanpa dipaksakan, tapi dinikmati. Yang dipengen sekarang, bahwa suatu saat nanti, entah kapan, meski itu lamaaaa sekali, seorang pangeran menghampiri dan menyapa diriku dengan gagahnya, ia dating menjemputku untuk merangkai cerita bersamanya. Aku percaya itu. Suatu hari dalam hidupku. Pasti!”.

Sahabatku terbahak mendengarnya, “Bwahwahahwhahahhaawawahhawaa !”. Terlalu berlebihan katanya. Tapi saya tak peduli. I have faith in me. Hari pun berjalan biasa, tak ada yang istimewa, hanya terasa mudah saya menjalaninya. Saya tetap ceria dalam kepercayaan mimpi, walaupun tak pasti kapan datangnya. Tak ada kesedihan dalm kepasrahan yang saya deklarasikan.

Tebak!

Beberapa minggu kemudian, seseorang yang tak disangka, tiba-tiba mengirim sms. Seseorang yang saya kagumi sejak SMP. Seorang yang selalu saya perhatikan ketika ia maju ke depan kelas. Seseorang yang tak pernah saya tunjukan bahwa saya menganguminya.

Tidak perlu berlama-lama untuk mengetahuinya, ia pun menyatakan kekagumannya pada saya. Ia pun menjelma menjadi seorang pangeran yang dating dengan gagahnya, menjemput dan bertanya “Maukah kau merangkai cerita indah bersamaku?”

Kekuatan untuk berserah diri, memasrahkan hati, telah mewujudkan mimpi. 😀